Media Trans – HKBP Ressort Kramat Jati di Jakarta Timur, yang sejak 4 Juli 2025, sudah dipimpin oleh Pdt. Dr. Martonggo Sitinjak, menggantikan Pdt. Dr. Anna Christina Vera Pangaribuan, dengan berdasar tema pelayanan HKBP periode 2024-2028 “Transformasi HKBP“, mengadakan pembekalan bagi 81 orang Parhalado.
Pdt Martonggo yang selama ini dikenal sebagai pendeta, yang kerap menjadi narasumber pembinaan parhalado. mengadakan Pembekalan bagi 81 orang Parhalado, termasuk Calon Sintua HKBP Ressort Kramat Jati. Pembekalan dilaksanakan di Wisma Kinasih Conference & Ressort Caringin, Bogor, pada 19–21 Februari 2026.
Kegiatan dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan antara Pendeta dan Sintua (penatua) dalam melayani sekitar 4.600 orang jemaat HKBP Ressort Kramat Jati. Pdt. Martonggo Sitinjak, mengungkapkan bahwa tidak mudah menyatukan visi dan misi dalam melayani ribuan jemaat.
“Saya harus berkenalan dengan para Parhalado agar pelayanan kepada jemaat HKBP Kramat Jati dan masyarakat sekitar dapat berjalan maksimal,” ujar Pdt. Martonggo, dalam keterangannya kepada media, Jumat (20/2/2026).
Konferensi pers HKBP Ressort Kramat Jati dihadiri Ketua Majelis Perbendaharaan Administrasi St. Leonard Simangunsong, Ketua Pembelian Lahan St. Henry Daniel Sirait, Calon Sintua Atiek Siahaan br. Silalahi, serta Ketua Panitia Septa Patriando Sirait.
Pdt. Martonggo menyampaikan pembekalan diperlukan untuk mempersiapkan para pelayan gereja, melanjutkan tugas pelayanan di tengah jemaat. Pembekalan membahas sejumlah materi, yakni Assesmen dan Pemberdayaan Diri untuk Pelayanan, Karunia dan Motivasi Pelayanan, Pelayanan di Era Digitalisasi, dan Penyegaran mengenai Makna dan Tugas Tohonan Sintua HKBP serta Penerapannya dalam Kehidupan Jemaat.
Parhalado diharapkan memahami perubahan zaman, termasuk perkembangan Artificial Intelligence (AI), agar mampu menjawab tantangan pelayanan masa kini.
“Gereja harus memahami perkembangan digitalisasi. Saya berharap para sintua semakin menyadari panggilan pelayanannya,” ujar Pdt Martonggo.
Pdt Martonggo menjelaskan bahwa, pelayanan di gereja berbeda dengan pekerjaan di dunia sekuler. “Melayani gereja adalah panggilan Ilahi. Karena itu harus memiliki jiwa pelayan”.
Narasumber dalam pembekalan diantaranya Ketua STFT Jakarta Pdt. Prof. Dr. Binsar Pakpahan, Ph.D., serta Guru Besar Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia Prof. Dr. Budi Anna Keliat.
Pdt. Binsar mengemukakan secanggih apa pun teknologi AI, tidak akan menggantikan pelayanan pendeta dan sintua. Namun, para pelayan Tuhan tetap harus meningkatkan spiritualitas dan pengetahuan.
“Pelayan Tuhan harus memahami kebutuhan jemaat dengan baik. Setiap generasi memiliki pendekatan pelayanan yang berbeda,” tandas Pdt Binsar.
HKBP Kramat Jati yang melayani sekitar 4.600 jemaat, memiliki empat pendeta, yakni satu Pendeta Ressort dan tiga Pendeta Fungsional, yakni Pdt. Filemon F. Sigalingging, Pdt. Eben Sihardo Simanjuntak, serta Pdt. Pamingotan Siahaan. Adapun 81 Parhalado akan melayani 20 wilayah pelayanan lingkup HKBP Ressort ramat Jati.
Ketua Panitia Pembekalan Parhalado, Septa Patriando Sirait, menyampaikan persiapan kegiatan dilakukan selama satu bulan. Septa Patrianando Sirait, melaporkan kegiatan ini diikuti oleh 81 peserta se-ressort.
“Ini merupakan kegiatan keempat yang kami selenggarakan. Memang tidak rutin, tetapi kami lakukan agar pelayanan semakin terbangun dengan visi dan misi bersama bagi jemaat HKBP Kramat Jati,” jelas Septa.
Ada tiga program besar di HKBP Ressort Kramat Jati usai pembekalan, yakni Jambore Sekolah Minggu, Gondang Naposo dan Festival Musik
Pembekalan yang mengangjat tema “Sukarela dan Pengabdian Diri” berlandaskan kitab 1 Petrus 5 ayat 2-3, menegaskan urgensi komitmen melayani tanpa paksaan.
Kehadiran semua pendeta selain Pdt. Dr. Martongo Sitinjak, yakni Pdt Filemon F Sigalingging, S.Th, Pdt Eben Sihardo Simanjuntak M.Th, Pdt Parningotan Siahaan dan Pdt Pontius Ch Siregar M.Div, menunjukkan keseriusan komitmen pembekalan.
Pendeta Ressort HKBP Kramat Jati, Pdt. Dr. Martongo Sitinjak, menganalogikan pembekalan dengan esensi kata ‘Bohal’, yang dalam bahasa Batak, berarti bekal bagi para gembala saat menjaga kawanan dombanya di padang belantara.
“Dalam pembekalan ini, ada tiga bekal utama yang kami sampaikan. Pertama, asesmen psikologi agar pelayan mengenal potensi dan kelemahannya. Kedua, pemahaman pelayanan di era digitalisasi yang telah berdampak masif pada peradaban dan psikologis jemaat. Ketiga, penyegaran ulang arti dan panggilan tohonan (tahbisan) sintua itu sendiri,” jelas Pdt. Martongo.
“Pelayanan gereja ini bukan profesi sekuler, melainkan panggilan Tuhan. Kita mau mengupas lapisan kecemasan itu agar para pelayan berani bangkit, berdiri teguh pada potensinya, dan meyakini bahwa Tuhan bekerja di dalam dirinya,” tegas mantan Kadep Koinonia HKBP, yang baru enam bulan melayani di HKBP Ressort Kramat Jati tersebut.
Untuk merespons tantangan pastoral yang semakin kompleks, HKBP Ressort Kramat Jati melahirkan sebuah slogan pelayanan bertajuk TOTAMA, yang merupakan akronim dari Topot, Tangihon, Tangianghonma.
Ketua Majelis Perbendaharaan & Administrasi (MPA) HKBP Kramat Jati, St. L. Simangunsong, mengapresiasi soliditas kebersamaan yang terjalin.
St L Simangunsong menekankan bahwa HKBP Ressort Kramat Jati yang menaungi gereja induk dan gereja pagaran HKBP Gedong, memiliki tanggung jawab pastoral yang besar di 20 wijk (wilayah pelayanan).
“Kami sadar bahwa Sintua-Sintua wijk ini adalah ujung tombak jemaat. Kegiatan ini tidak akan sia-sia, dan kami mengerjakannya dengan sangat dinamis,” tandas Septa, yang telah beberapa kali dipercaya menangani kepanitiaan serupa.
Pembekalan parhalado ditutup ibadah dipimpin Pdt Basa Rohana Hutabarat, M.Th. Melalui pembekalan intensif ini, diharapkan para parhalado HKBP Ressort Kramat Jati dapat merumuskan langkah strategis pelayanan secara mandiri, serta membawa jemaat bertumbuh bersama melintasi tantangan zaman dengan iman yang tak tergoyahkan. (DED)

Be the first to comment