Media Trans – Polemik masalah konflik bersenjata di Tanah Papua hingga kini belum menemukan titik terang penyelesaia, bahkan dalam beberapa hari terakhir, khususnya di Kabupaten Intan Jaya dan Kabupaten Yahukimo, meletus kembali kontak senjata yang merenggut sejumlah nyawa.
Mereka yang menjadi korban jiwa di antaranya adalah Pdt. Elianus Agimbau, pelayan Tuhan dan gembala jemaat GKII, Melkiana Duwitau seorang ibu yang sedang hamil delapan bulan, beserta bayi yang dikandungnya, dan Okto Tigau, warga sipil yang ditemukan meninggal dunia dengan dugaan mengalami penyiksaan dan luka-luka berat; ada lima luka tembak di dada serta mutilasi pada bagian telinga, demikian laporan yang dikeluarkan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI).
Peristiwa mengenaskan juga terjadi di Lapangan Terbang Ipdeheik, Kampung Balinggama, Yahukimo, Papua Pegunungan 2 Juli 2026, yakni Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) menyerang dan membakar pesawat perintis milik maskapai Associated Mission Aviation (AMA) di Lapangan Terbang Ipdeheik, menewaskan pilot warga Amerika Serikat, Nicholas F. Goselin, namun 7 orang penumpang selamat.
Juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), Sebby Sambom, mengklaim pihaknya bertanggung jawab atas serangan terhadap pilot warga Amerika Serikat beserta pembakaran pesawat tersebut.
Sebby menyatakan TPNPB telah menembak mati Nicholas F. Goselin lantaran diduga mengangkut pasukan dan logistik militer Indonesia ke provinsi yang tengah bergejolak itu, dugaan tersebut dibantah pihak PT AMA dan gereja yang menjelaskan bahwa pesawat AMA dipergunakan untuk misi kemanusiaan.
AMA belum memutuskan apakah akan menghentikan operasional penerbangan. Keputusan baru akan diambil setelah seluruh proses penanganan jenazah pilot selesai. Saat ini AMA memiliki sekitar 16 pilot, termasuk pilot asing.
Pernyataan Sikap GAMKI dan Pemuda Katolik
Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) dan Pemuda Katolik menyerukan penghentian kekerasan serta penegakan martabat kemanusiaan di Papua.
GAMKI dan Pemuda Katolik mendesak dilakukan investigasi independen atas pembunuhan warga sipil di Tanah Papua.
GAMKI dan Pemuda Katolik mengecam keras aksi kekerasan yang terjadi di Tanah Papua, antara lain pembakaran pesawat misionaris AMA PK-RCY serta penembakan pilot Nicholas F. Goselin, Pendeta Elianus Agimbau, ibu hamil Melkiana Duwitau dan bayinya, anak muda Okto Tigau, dan aparat keamanan hingga tewas.
Rangkaian peristiwa berdarah tersebut menambah daftar panjang tragedi kemanusiaan, akibat konflik bersenjata yang terjadi selama bertahun-tahun di Tanah Papua.
Pernyataan sikap disampaikan secara bersama antara GAMKI dan Pemuda Katolik.
Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Stefanus Asat Gusma, menegaskan bahwa tindakan kekerasan terhadap pelayanan kemanusiaan merupakan pelanggaran serius terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan tidak dapat dibenarkan dalam keadaan apa pun.
“Kami berduka bersama Gereja Katolik di Tanah Papua atas gugurnya seorang pilot yang datang bukan untuk berperang, melainkan untuk melayani masyarakat di wilayah-wilayah terpencil. Pembakaran pesawat misionaris dan pembunuhan terhadap pilotnya bukan hanya menyerang aset gereja, tetapi juga melukai harapan masyarakat yang selama ini bergantung pada pelayanan kemanusiaan tersebut,” ujar Gusma.
Ketua Umum DPP GAMKI, Sahat Martin Philip Sinurat, menekankan bahwa setiap nyawa manusia memiliki martabat yang harus dihormati dan tidak boleh direnggut oleh kekerasan.
“Kami mengecam segala bentuk kekerasan terhadap siapa pun, baik warga sipil, tokoh agama, tenaga kemanusiaan, aparat negara, maupun kelompok masyarakat lainnya. Tidak ada perjuangan yang memperoleh legitimasi moral ketika dibangun di atas pembunuhan dan teror. Papua membutuhkan ruang dialog, keadilan, dan rekonsiliasi, bukan lingkaran kekerasan yang terus memakan korban,” tegas Sahat.
Sementara itu, Ketua Gugus Tugas Papua PP Pemuda Katolik, Melkior Sitokdana, menyatakan bahwa rangkaian tragedi tersebut harus menjadi panggilan moral bagi seluruh bangsa Indonesia untuk menempatkan keselamatan manusia sebagai prioritas utama.
Melkior juga mendorong pemerintah mengambil langkah konkret untuk memperkuat pelayanan kemanusiaan di Papua melalui pemberdayaan sumber daya manusia lokal serta menjamin keamanan dan keselamatan tenaga kesehatan, guru, dan tokoh agama, yang melakukan pelayanan di daerah konflik.
“Kami mendorong pemerintah memperkuat kapasitas putra-putri orang asli Papua agar semakin banyak mengambil peran sebagai pilot, tenaga kesehatan, guru, dan profesi pelayanan publik lainnya di wilayah-wilayah terpencil. Selain memperluas kesempatan bagi SDM lokal, langkah ini diharapkan memperkuat kepercayaan masyarakat, menjaga keberlangsungan pelayanan dasar, serta mendukung terciptanya situasi yang lebih kondusif bagi pelayanan kemanusiaan,” ujarnya.
GAMKI dan Pemuda Katolik menilai pesan para uskup di Tanah Papua serta seruan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), menjadi pengingat bahwa setiap korban kekerasan—baik pendeta, ibu hamil beserta bayinya, warga sipil, pilot pesawat, maupun aparat negara—merupakan tragedi kemanusiaan yang melukai martabat bersama.
“Kami percaya bahwa damai tidak akan lahir dari senjata, melainkan dari keberanian untuk menghormati kehidupan, menegakkan keadilan, dan memulihkan persaudaraan. Darah yang tertumpah di Papua harus menjadi panggilan bagi semua pihak untuk menghentikan kekerasan dan membuka jalan menuju perdamaian sejati,” tutur Gusma.
Menutup pernyataan bersama dua ormas kepemudaan keagamaan tersebut, Sahat menyampaikan sejumlah usulan konkret kepada pemerintah.
GAMKI dan Pemuda Katolik mendesak semua pihak menghentikan segala bentuk kekerasan, menjunjung tinggi martabat manusia, melindungi pelayanan kemanusiaan dan keagamaan, dan mengutamakan keselamatan masyarakat, terkhusus ribuan warga sipil yang mengungsi.
“Kami juga meminta dilakukan investigasi independen atas pembunuhan terhadap warga sipil yang terjadi baru-baru ini. Kami mendorong dilakukannya dialog damai yang melibatkan gereja, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat sipil. Papua membutuhkan keadilan dan perdamaian, bukan kekerasan yang terus berulang,” pungkas Sahat. (DED)

Be the first to comment