Media Trans – Badan Narkotika Nasional RI hari ini (Kamis, 23 Juli 2026) menggelar puncak acara memperingati Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) yang diperingati setiap 26 Juni berdasarkan penetapan PBB. Puncak acara dilaksanakan di Balai Besar Rehabilitasi BNN Lido Bogor.
Bertepatan dengan pelaksanaan puncak acara HANI 2026, pada 23 Juli 2026 juga diadakan Peringatan Hari Anak Nasional ke-42.
Kedua acara peringatan tersebut mempunyai tema yang bersinergi, yakni berfokus pada anak. Tema HANI 2026 adalah “Membangun Generasi Sehat, Cerdas, dan Kuat Melalui Gerakan Ananda Bersinar Menuju Indonesia Emas 2045“, sedangkan Tema HAN 2026 yakni “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan“.
“Hari Anak Nasional 2026 mengajak seluruh elemen bangsa menempatkan anak sebagai pusat pembangunan, sementara Hari Anti Narkotika Internasional 2026 kembali mengetuk kesadaran kolektif bahwa ancaman narkotika belum pernah benar-benar usai. Ketika kedua peringatan ini bertemu dalam semangat yang sama, lahirlah sebuah pesan yang sangat relevan: “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan“ tulis Frieda A. Tonglo pemerhati Anak dan Remaja kepada mediatransformasi.com, merespon sinergitas tema dua kegiatan HANI dan HAN 2026.
Lebih lanjut Frieda menyampaikan bahwa “Tema tersebut bukan sekadar slogan seremonial. Ini merupakan panggilan moral bagi keluarga, masyarakat, dan pemerintah untuk memastikan setiap anak Indonesia tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, bahagia, sekaligus bebas dari berbagai bentuk ancaman, termasuk penyalahgunaan narkotika. Sebab, masa depan bangsa sesungguhnya sedang dipersiapkan melalui pengalaman masa kanak-kanak yang mereka jalani hari ini”.
Frieda yang juga aktif pada bidang rehabilitasi narkoba berlatarbelakang psikologi, memandang bahwa perlindungan anak tidak dapat dipisahkan dari pembangunan kesehatan mental dan penguatan ketahanan keluarga.
“Pencegahan narkotika sesungguhnya dimulai jauh sebelum seseorang mengenal zat adiktif. Pencegahan dimulai dari rumah, dari pola pengasuhan, dari kualitas komunikasi antara orang tua dan anak, serta dari rasa aman yang mereka rasakan setiap hari” terang Frieda.
“Psikologi perkembangan menjelaskan bahwa anak membutuhkan tiga fondasi utama untuk bertumbuh secara optimal: kasih sayang, rasa aman, dan kesempatan berkembang. Ketika salah satu fondasi tersebut rapuh, berbagai risiko dapat muncul, mulai dari rendahnya kepercayaan diri, kesulitan mengelola emosi, hingga meningkatnya kerentanan terhadap perilaku berisiko pada masa remaja, termasuk penyalahgunaan narkotika” jelas Frieda.
Frieda pun menyampaikan bahwa “Tidak sedikit penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam hubungan keluarga yang hangat, komunikatif, dan penuh dukungan, memiliki daya tahan psikologis yang lebih kuat ketika menghadapi tekanan lingkungan. Sebaliknya, kurangnya perhatian, konflik keluarga yang berkepanjangan, kekerasan, maupun pengabaian emosional dapat menjadi faktor risiko yang memperbesar peluang anak mencari pelarian pada perilaku yang merugikan dirinya.”
Lebih lanjut Frieda mengemukakan bahwa “Pencegahan narkotika seharusnya tidak hanya dipahami sebagai penegakan hukum atau kampanye bahaya narkoba semata. Pencegahan adalah investasi jangka panjang dalam membangun manusia yang sehat secara psikologis. Anak yang merasa dicintai akan lebih mudah belajar menghargai dirinya sendiri. Anak yang didengar akan lebih berani menyampaikan masalahnya. Anak yang diberi teladan akan lebih mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab ketika menghadapi berbagai godaan di masa depan”.
Namun, keluarga tidak dapat bekerja sendiri. Perubahan sosial yang begitu cepat menghadirkan tantangan baru yang tidak pernah dialami generasi sebelumnya. Media sosial, pergaulan digital, kemudahan akses informasi, hingga munculnya berbagai modus peredaran narkotika yang semakin canggih menuntut adanya pengawasan dan literasi yang lebih adaptif. Orang tua tidak cukup hanya melarang, tetapi juga perlu memahami dunia anak, membangun dialog yang terbuka, dan menjadi tempat pulang yang nyaman ketika anak menghadapi persoalan.
Masyarakat memegang peranan yang tidak kalah penting. Lingkungan yang peduli akan menciptakan ruang tumbuh yang sehat bagi anak-anak. Sekolah yang ramah anak, organisasi kepemudaan yang aktif, komunitas yang menghadirkan kegiatan positif, hingga tokoh masyarakat yang menjadi teladan merupakan bagian sangat penting dari ekosistem perlindungan anak.
Ketika masyarakat memilih untuk tidak acuh terhadap perubahan perilaku seorang anak atau remaja, sesungguhnya mereka sedang berkontribusi negatif dalam upaya pencegahan yang sangat bermakna.
Di sisi lain, pemerintah memiliki tanggung jawab strategis dalam memastikan kebijakan perlindungan anak berjalan secara nyata. Penguatan layanan kesehatan mental, pendidikan karakter, rehabilitasi yang berorientasi pada pemulihan, pengawasan terhadap peredaran narkotika, serta kolaborasi lintas sektor perlu terus diperkuat.
Pencegahan akan jauh lebih efektif apabila dilakukan secara terpadu, berbasis bukti ilmiah, dan menjangkau hingga tingkat keluarga.
Pendekatan psikologi mengajarkan bahwa perubahan perilaku tidak lahir dari rasa takut semata, melainkan dari munculnya kesadaran, keterikatan sosial, dan harapan terhadap masa depan.
“Oleh karena itu, kampanye anti narkotika yang paling efektif bukan hanya memperlihatkan bahaya narkoba, tetapi juga menghadirkan alternatif kehidupan yang sehat, produktif, dan bermakna bagi anak-anak dan remaja. Kita juga perlu mengubah cara pandang terhadap anak. Mereka bukan sekadar penerima nasihat, melainkan individu yang memiliki suara, potensi, dan kemampuan untuk menjadi agen perubahan. Ketika anak dilibatkan dalam kegiatan positif, diberi ruang untuk berpendapat, dan diapresiasi atas prestasinya, mereka sedang belajar membangun identitas yang sehat. Identitas yang kuat menjadi benteng penting dalam menghadapi berbagai bentuk tekanan sosial, termasuk ajakan untuk mencoba narkotika” tandas Frieda.
Momentum peringatan Hari Anak Nasional yang beriringan dengan Hari Anti Narkotika Internasional pada tahun 2026, menjadi pengingat bahwa perlindungan anak dan pencegahan narkotika sesungguhnya merupakan dua sisi dari tujuan yang sama, yakni membangun generasi yang sehat, tangguh, dan berkarakter. Anak-anak yang terlindungi hari ini adalah pemimpin, inovator, pendidik, tenaga kesehatan, ilmuwan, dan penggerak bangsa pada masa depan.
Menyayangi anak berarti hadir secara utuh dalam kehidupannya. Melindungi anak berarti memastikan mereka terbebas dari kekerasan, eksploitasi, serta penyalahgunaan narkotika. Membangun masa depan berarti menyediakan lingkungan yang memungkinkan setiap anak berkembang sesuai potensi terbaiknya.
Pada akhirnya, kualitas sebuah bangsa tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau kemajuan teknologi, tetapi juga dari bagaimana bangsa tersebut memperlakukan anak-anaknya. Ketika keluarga menguatkan kasih sayang, masyarakat membangun kepedulian, dan pemerintah menghadirkan kebijakan yang berpihak pada kepentingan terbaik anak, maka kita sedang menanam benih bagi Indonesia yang lebih sehat, lebih tangguh, dan lebih berdaya saing.
“Mari menjadikan peringatan Hari Anak Nasional dan Hari Anti Narkotika Internasional 2026 bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum memperkuat komitmen bersama. Sebab setiap anak yang terlindungi hari ini, adalah harapan yang akan menerangi masa depan Indonesia. Dan setiap langkah kecil dalam menjaga mereka adalah investasi terbesar bagi peradaban bangsa.” pungkas Frieda. (DED)

Be the first to comment