Media Trans – Pecahnya perang AS, Israel, dan Iran, bahkan telah meluas melanda sejumlah negara kawasan Timur Tengah, menambah kekhawatiran ancaman krisis ekonomi global kian menguat.
Serbuan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan pemanfaatannya dalam berbagai lini dunia kerja, maupun dunia usaha pun menambah ancaman krisis ekonomi global.
Badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat gempuran teknologi kecerdasan buatan (AI) rupanya masih berlanjut. Langkah ekstrem belum lama ini dilakukan oleh Block, perusahaan fintech rintisan mantan CEO Twitter, Jack Dorsey.
Perusahaan induk dari layanan pembayaran Square dan Cash App itu dilaporkan baru saja memangkas sekitar 40 persen dari total karyawannya.
Keputusan efisiensi ini sengaja dilakukan karena Block secara terbuka ingin fokus sepenuhnya pada pemanfaatan tools dan agen AI. Pemangkasan 40 persen tenaga kerja ini tercatat sebagai salah satu efisiensi berbasis AI paling agresif di awal 2026, demikian dilaporkan Kompas.com kemarin (3 Maret 2026).
Melalui surat kepada pemegang saham pada Kamis lalu, Jack Dorsey mengungkapkan bahwa sebanyak 4.000 karyawan dterdampak efisiensi ini, diberhentikan.
Dari yang sebelumnya menampung lebih dari 10.000 orang, kini dipangkas hingga tersisa di bawah 6.000 karyawan saja.
Ada pergeseran cara pandang yang kentara di internal Block. Perusahaan kini tidak lagi melihat AI sekadar sebagai asisten bagi karyawan. Lebih dari itu, AI sudah dianggap sebagai pengganti fungsional untuk mengotomatisasi pekerjaan. Manajemen Block tampaknya cukup yakin bahwa agen AI generasi terbaru dan alat pemrograman otomatis sudah bisa diandalkan untuk mengambil alih tugas-tugas krusial.
Tentunya, dengan ongkos operasional yang jauh lebih irit dan waktu pengerjaan yang lebih singkat ketimbang tenaga manusia.
Jack Dorsey Berambisi Gunakan AI Sepenuhnya
Perombakan total susunan pekerja ini tak lepas dari ambisi sang CEO, Jack Dorsey. Ia kabarnya berniat mengubah haluan bisnis Block menjadi perusahaan yang sepenuhnya digerakkan oleh infrastruktur AI (AI-first infrastructure).
Ke depannya, teknologi AI otonom bakal ditanamkan ke seluruh produk andalan Block, seperti dikutip KompasTekno dari Arstechnica. Mesin pintar ini diproyeksikan akan mengambil alih porsi kerja mayoritas, mulai dari divisi layanan pelanggan, software engineering, hingga analisis pemodelan keuangan. Manuver Block ini sekaligus menjadi tamparan keras bagi para pekerja di Silicon Valley. Narasi awal yang menyebut bahwa AI “hanya akan menciptakan lapangan kerja baru” kini mulai terpatahkan oleh realitas di lapangan. Faktanya, mesin mulai secara harfiah menggusur posisi pekerja kerah putih (white-collar workers).
Meski banjir kritik terkait nasib ribuan karyawannya, langkah radikal Block ini kemungkinan besar akan diawasi ketat oleh perusahaan kompetitor dan para investor di Wall Street. Terutama bagi mereka yang terus mendesak margin keuntungan lebih besar di tengah tren AI saat ini. (DED)

Be the first to comment