Film Pesta Babi : Kontroversi, Nobar, Gurita Korporasi PSN Tanah Papua, Tayang Resmi Online

Media Trans Kontroversi film dokumenter Pesta Babi Kolonialisme di Zaman Kita (Pig Feast, Colonialism in Our Time) produksi WatchDoc, film dokumenter investigatif yang disutradarai oleh kolaborasi lintas generasi antara Dandhy Dwi Laksono (Sutradara Sexy Killers dan Dirty Vote) dan Cypri Paju Dale, Ph.D (seorang antropolog dan peneliti isu Papua), film berdurasi 95 menit diproduksi oleh kolaborasi berbagai lembaga, termasuk Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Yayasan Bentala Pusaka, Jubi.id, Greenpeace Indonesia, dan LBH Papua Merauke. Film tersebut tayang perdana di Auckland, Selandia Baru pada 7 Maret 2026.

Film yang menyoroti potret pahit perjuangan masyarakat adat di wilayah Papua Selatan, terutama dari suku Marind, Yei, Awyu, dan Muyu, yang ruang hidupnya terancam oleh eksploitasi lahan skala besar berjudul Proyek Strategis Nasional (PSN).

PSN dimaksud diantaranya pembukaan jutaan hektar hutan ulayat demi proyek ketahanan pangan, tebu, sawit, biodiesel, hingga bioetanol. Melalui mata para tokoh lokal, seperti Yasinta Moiwend dari suku Marind Anim, penonton diajak melihat bagaimana hutan adat perlahan digunduli dan berubah menjadi kawasan industri yang dijaga ketat.

Selain menampilkan bentrokan di lapangan, dokumenter investigatif ini memperlihatkan penelusuran data mengenai afiliasi bisnis dan siapa saja aktor utama di balik gurita korporasi yang menerima manfaat terbesar dari eksploitasi tanah Papua tersebut.

Kontroversi, Pembubaran Nobar, Rilis Resmi Online

Berdasarkan keterangan media dari WatchDoc, disampaikan selama 40 hari musim nobar, lebih dari 11 ribu permintaan masuk dan hampir 1.700 layar nobar telah terselenggara di berbagai tempat. Tercatat 30 titik nobar dibubarkan, dibatalkan, ataupun diintimidasi, kemungkinan jumlahnya lebih dari yang tercatat.

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Maruli Simanjuntak mempertanyakan sumber dana pembuatan film dokumenter ‘Pesta Babi’.

“Sekarang permasalahannya, orang sampai membuat video, bagaimana ceritanya seperti ini, segala macam, duitnya dari mana? Silahkan coba saja. Sampai datang ke sana, bikin video, terbang sini, terbang sana. Orang berduit lah,” ujar Maruli kepada media di Kompleks Parlemen, Selasa, 19 Mei 2026.

Maruli membantah jika TNI yang memberikan instruksi pembubaran film dokumenter tersebut.

Co-Director sekaligus Produser film Pesta Babi, Dandhy Laksono saat hadir nobar di Rumah Pembelajar Cilangkap, bertepatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2026, yang diinisiasi sejumlah aktivis civil society, seperti Sudirman Said (Institute Harkat Negeri, mantan Menteri ESDM), Todung Mulya Lubis (Masyarakat Transparansi Indonesia), Chandra Hamzah (mantan pimpinan KPK), Prof Ikrar Nusa Bakti (peneliti), Lukman Hakim Saifuddin (mantan Menteri Agama), dan yang lainnya, menanggapi lontaran pertanyaan KSAD Maruli Simanjuntak tentang pendanaan film, merespon dengan mengatakan “Pokoknya Ada”.

Lebih lanjut Dandhy menjelaskan bahwa dana film dokumenter besutannya transparan, dapat dilihat dari berbagai logo yang terpasang.

“Di tengah pembubaran, intimidasi, dan pelarangan, nobar justru tumbuh menjadi ruang bertemu, berdiskusi, dan saling menguatkan. Ketika ruang publik makin sempit oleh konglomerasi media, algoritma, dan buzzeRp, layar-layar kecil itu menjelma jadi ruang berbagi gagasan. Terima kasih untuk semua yang terus menjaga ruang ini tetap hidup” demikian disampaikan WatchDoc dalam laman media sosialnya.

Sebelumnya, untuk dapat menyaksikan film kontroversi tersebut, publik dapat menghubungi WatchDoc, ada sejumlah ketentuan bila ingin mengadakan nobar film Pesta Babi.

Tapi kini film Pesta Babi resmi tayang online di YouTube JubiTV, melalui kolaborasi Redaksi JubiTV, Watchdoc Documentary, Greenpeace Indonesia, Bentala Rakyat, Indonesia Baru, dan LBH Papua Merauke. Berikut link YouTube resmi, klik film Pesta Babi

Sudirman Said : Bukan Melawan, Tapi Mengorganisir Diri

Sudirman Said Ketua Institut Harkat Negeri saat nobar film Pesta Babi di Rumah Pembelajar Cilangkap, mengungkapkan bahwa dirinya berkoordinasi dengan TNI-POLRI untuk nobar, bahkan petugas keamanan dipersilakan ikut nobar.

“Ada gejala akut, negara semula alat pembagi kemakmuran pencipta keadilan, direduksi jadi mesin elektoral,” ujar Sudirman usai nobar film Pesta Babi.

Sudirman mempertanyakan arah kebijakan anggaran saat ini yang dianggapnya tidak lagi inklusif. “Kenapa ada perusakan alam Papua seperti di film “Pesta Babi”? Elektoral. Kenapa ada MBG? Elektoral. Kenapa ada KDMP? Elektoral. APBN dibagi, tapi tidak untuk seluruh rakyat. Pejabat ditunjuk, tidak untuk melayani rakyat,” tegas Sudirman.

Melihat lumpuhnya hampir segenap institusi formal, terutama DPR dan partai politik, Sudirman mendesak masyarakat sipil dan generasi muda untuk segera merapatkan barisan.

“Kita terima? Jangan sampai. Bukan dengan melawan, tapi mengorganisasi diri, mempersiapkan diri. DPR lumpuh, partai lumpuh, itu wake up call buat masyarakat sipil bangkit dan bersatu. Lewat forum ini, waktunya menata diri,” tegas Sudirman.

Berdasarkan informasi WatchDoc, film Pesta Babi tembus 1 juta views, walaupun belum ada 12 jam setelah dirilis secara resmi di kanal YouTube Redaksi JubiTV. (DED)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*