Media Trans – Ratusan orang Batak berbagai macam marga berkumpul di Auditorium Lt.8 Kampus Universitas Mpu Tantular yang berlokasi di Jakarta Timur, pada 25 Juni 2026 siang hingga malam. Mereka hadir untuk mengikuti Peluncuran dan Diskusi Buku Ruhut-Ruhut Adat Batak Toba (RRABT) Se-jabodetabek Cetakan ke-2, bertajuk “Refleksi Budaya Batak di Era Moderen“.
Acara yang diadakan oleh Dewan Mangaraja Lokus Adat Budaya Batak (DM LABB) dikoordinir oleh Ketua Panitia Bernhard M.H Siregar, yang juga Ketua Umum PATOGAR (Parsadaan Toga Siregar) Jaya, mengundang hadir Menteri Kebudayaan RI Prof. Dr. Fadli Zon, S.S., M.Sc, yang sekaligus menjadi Keynote Speaker.
Peluncuran dan Diskusi Buku Ruhut-ruhut Adat Batak Toba cetakan ke-2, sebagaimana disampaikan Ketua Panitia Bernhard Siregar, merupakan kelanjutan dari cetakan pertama yang terbit pada masa kepengurusan LM LABB dipimpin Ketua Umum Brigjen TNI Purn. Berlin Hutajulu.
“Peluncuran buku LABB berjudul Ruhut-Ruhut Adat Batak Toba ini adalah kali yang kedua. Pada masa DM LABB dipimpin oleh Brigjen TNI Purnawirawan Berlin Hutajulu, telah menerbitkan buku dengan judul yang sama” ujar Bernhard.
Panitia bekerja lebih kurang 3 bulan sejak mendapatkan SK pada bulan Maret 2026, yang dikeluarkan Ketua Umum DM LABB Dr. Pontas Sinaga dan Sekjen Sepri Situmeang, sehubungan dengan periode pemerintahan saat ini ada Kementerian Kebudayaan, panitia mengundang Menteri Kebudayaan, demikian dijelaskan Ketua Panitia Bernhard Siregar.
DM LABB melalui panitia, mengundang perwakilan pengurus-pengurus marga Batak di wilayah Jabodetabek, perwakilan pengurus lembaga/ organisasi Habatahon, seperti Batak Center, Yayasan Pencinta Danau Toba, dan lainnya, juga mengundang hadir Ephorus GPKB, Praeses HKBP Distrik VIII dan XIX, Ketua Yayasan Universitas Mpu Tantular Budi Sinambela, Samsul Hadi Direktur Bidang Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kementerian Kebudayaan RI yang hadir lebih awal mewakili Menteri Fadli Zon, dan tamu undangan lainnya.
Diskusi Berlangsung Hangat
Diskusi buku menghadirkan penyaji seorang tokoh pemerhati kebudayaan Batak, yakni Prof Payaman Simanjuntak, dengan penanggap para perwakilan pengurus marga yang hadir. Turut hadir juga Tim Perumus diantaranya: Jhohannes Marbun, Hotman J. Lumban Gaol, dan Justin Sinambela.
Prof Payaman dalam ulasannya diantaranya mengatakan, bahwa :
– Budaya adalah satu sistem peradaban masyarakat
– Mencerminkan tata kehidupan dan nilai-nilai yang dianut masyarakat
– Tercermin dalam berbagai bentuk: Adat istiadat, seni lukis, seni tari, seni suara, dan tulisan-tulisan
– Budaya Batak memenuhi ke-5 kriteria tersebut: termasuk budaya tinggi.
Prof Payaman juga menyampaikan adanya Tri Embanan yang menjadi tanggung jawab LABB, yakni :
– Menghadirkan Buku Ruhut-Ruhut Adat Batak Toba di Jabodetabek.
– Menghadirkan Buku Pranata Hukum Adat Batak.
– Memelihara dan mengem-bangkan Seni Budaya Batak.
Prof Payaman menjelaskan tentang isi buku Ruhut-ruhut Adat Batak Toba cetakan ke-2, yang diterbitkan pada Januari 2026, sebagai kelanjutan cetakan pertama yang terbit pada November 2019. Adapun garis besar isi buku cetakan ke-2 meliputi:
i. Pendahuluan
ii. Sapaan Umpama dan Umpasa Batak
iii. Acara Pesta Pernikahan
iv. Pernikahan Campuran
v. Ulaon Partangiangan
vi. Acara Adat Kematian
Prof Payaman juga mengemukakan ada hal-hal yang belum dibahas buku RRABT, yakni :
– Pesta Naposo, disepakati pada saat acara Marria raja
– Penari penjemput Hula-hula masuk Gedung: Namarbaju dari Marga Penganten Perempuan
– Pembagi kopi dan lampet, dari Naposobulung kedua belah pihak
– Acara Unjuk malam hari
Saat sesi tanggapan dari peserta dan penanggap perwakilan pengurus marga, berlangsung hangat dengan berbagai argumen dan pemikiran, yang disampaikan untuk menyempurnakan bahasan buku, agar dapat menjadi pedoman penerapan adat bagi komunitas Batak diwilayah perantauan, khususnya di Jabodetabek.
Sambutan Ketua Umum DM LABB
Ketua Umum DM LABB Dr. Pontas Sinaga dalam sambutannya mengemukakan alasan pembuatan buku Ruhut-Ruhut Adat Batak Toba oleh LABB.
“Kita juga menyadari bahwa perkembangan zaman menghadirkan tantangan baru. Urbanisasi, perubahan pola hidup masyarakat, serta tuntutan efisiensi sering kali membuat generasi muda memandang pelaksanaan adat sebagai sesuatu yang rumit, memakan waktu, dan membutuhkan biaya besar. Berangkat dari realitas tersebut, buku ini menawarkan suatu pendekatan yang disebut Konsep 3E, yaitu: Esensial, yakni menjaga nilai-nilai inti adat yang tidak boleh hilang atau dikurangi maknanya. Efektif, yaitu pelaksanaan adat yang mampu mencapai tujuan dan makna adat secara tepat serta memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat. Efisien, yaitu pelaksanaan adat yang lebih hemat biaya, hemat waktu, dan disesuaikan dengan kondisi kehidupan masyarakat masa kini tanpa menghilangkan kehormatan adat itu sendiri. Konsep 3E bukanlah upaya mengurangi martabat adat Batak. Sebaliknya, konsep ini merupakan ikhtiar untuk memastikan agar adat tetap hidup, relevan, dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Adat yang terlalu berat untuk dijalankan berisiko ditinggalkan, sedangkan adat yang mampu beradaptasi akan tetap lestari sepanjang zaman.” jelas Dr. Pontas.
Lebih lanjut Dr. Pontas mengemukakan “Lokus Adat Budaya Batak memandang bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan tradisi, tetapi juga memerlukan inovasi dan pembaruan tata kelola yang tetap berakar pada nilai-nilai luhur leluhur kita. Kami berharap buku ini dapat menjadi bahan diskusi, referensi, dan panduan bagi masyarakat Batak, khususnya di wilayah Jabodetabek, dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan adat yang lebih tertata, bermakna, dan sesuai dengan tantangan zaman. Lebih dari itu, kami berharap buku ini mampu membangun jembatan antara generasi tua dan generasi muda, sehingga anak-anak muda Batak tidak hanya mengenal adat sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai identitas dan kebanggaan masa depan”.
Arahan Menteri Kebudayaan Prof Fadli Zon
Menteri Kebudayaan Prof. (Hon.) Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc yang walaupun padat agenda kerja, berkesempatan hadir dalam peluncuran dan diskusi buku Ruhut-Ruhut Adat Batak Toba cetakan ke-2, selain karena adanya undangan panitia, juga karena keberadaan salah seorang anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kementerian Kebudayaan, yang juga pengurus LABB, Jhohannes Marbun.
Pada awal sambutannya, Menteri Fadli Zon menyapa semua tokoh, dan perwakilan lembaga/organisasi Habatahon, dan menyebutkan bahwa ada Tim Ahli Cagar Budaya yang mengingatkan dirinya untuk hadir, yakni Jhohannes Marbun.
“Juga ada Tim Ahli Cagar Budaya, Bapak Joe Marbun tadi saya ada lihat disini, beliau ini yang bolak balik mengingatkan saya” ujar Menteri Fadli Zon.
Menteri Fadli Zon menyampaikan ucapan selamat atas peluncuran buku Ruhut-Ruhut Adat Batak Toba cetakan ke-2.
“Saya mengucapkan Selamat (untuk peluncuran buku) dan mudah-mudahan buku penting ini, buku Ruhut-Ruhut ini, ruhut-ruhut ini kan artinya pedoman ya, tata tertib, aturan ya, ini sangat penting terutama terkait dengan adat Batak se-jabodetabek” ucap Menteri Fadli Zon.
Adat istiadat merupakan bagian dari objek upaya pemajuan kebudayaan, seringkali kebudayaan mengalami reduksi hanya soal seni, padahal kebudayaan itu luas sekali, selain diatur dalam Pasal 32 UUD 1945 juga ada UU no 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, demikian disampaikan Menteri Fadli Zon.
“Salah satu objek pemajuan kebudayaan, selain seni adalah bahasa, termasuk didalamnya bahasa Batak, ada dalam pasal 32 tentang bahasa daerah” jelas Menteri Fadli Zon.
Menteri Fadli Zon dalam paparannya diantaranya menyampaikan, bahwa “Kita ingin budaya ini menjadi engine of growth, menjadi ekonomi budaya dan industri budaya. Dalam hilirisasi budaya, hak kekayaan intelektual (IP) serta indikator geografis dari tenun ulos, misalnya, harus dikembangkan menjadi bagian dari fesyen global seperti halnya ekosistem batik saat ini”.
Kekaguman Menteri Fadli Zon terhadap Batak, diungkapkannya juga terkait viralnya film-film produksi dalam negeri yang melibatkan artis orang-orang Batak, salah satu yang paling fenomenal disebut Menteri Fadli Zon, adalah film Agak Laen 2 yang berhasil tembus 11 juta penonton, dan ini telah membangkitkan industri film mengalahkan film-film luar.
Rangkuman dan Rekomendasi Tindak Lanjut
Adapun paparan rangkuman dan rekomendasi tindak lanjut disampaikan oleh Jhohannes Marbun jelang penutupan diskusi.
Berikut diantaranya paparan yang disampaikan :
Buku Ruhut-Ruhut Adat Batak Toba Di Jabodetabek, ditulis atas amanat Sidang Umum Lokus Adat Budaya Batak (SU LABB) kepada Dewan Mangaraja Lokus Adat Budaya Batak (DM LABB) yang merupakan salah satu dari Tri Embanan kepada DM LABB.
Buku ini tidak dimaksudkan untuk mengubah atau menyeragamkan tata laksana paradaton yaang sudah lazim dipraktekkan oleh punguan marga Batak selama ini. Namun , sebagai referensi bagi masyarakat dalam memahami dan mengamalkan adat dan budaya Batak di Jabodetabek.
Perbedaan latar belakang antara warga Batak Toba kelahiran Bona Pasogit dengan kelahiran Jabodetabek berpengaruh pada persepsi mereka terhadap adat Batak dan perilakunya sebagai warga Batak. Buku ini mencoba menyesuaikan dengan kedua kelompok tersebut kaum senior (gen “kolonial”) dan kaum junior (gen milenial, gen Z dan gen alpha) dengan tetap berprinsip pada 3E, yaitu Esensial, Efektif dan Efisien. Esensial artinya hakikat asli adat terpelihara, Efektip artinya pelaksanaan adat berhasil mencapai esensinya, Efisien artinya pelaksanaan adat yang esensial dan efektip tidak harus mahal, rumit dan berlama-lama.
Di awal penerbitannya, buku Ruhut-Ruhut Adat Batak Toba Di Jabodetabek ditujukan untuk warga Batak Toba di wilayah Jabodetabek, diharapkan dapat digunakan warga batak Toba dimanapun berdomisili. Ruhut-ruhut adat Batak Toba di buku ini dibuat lebih sederhana (simplifikasi) namun tetap memperhatikan prinsip 3E.
Akhir-akhir ini pelaksanaan adat Batak Toba itu mahal, rumit dan lama, hal mana tidak sesuai dengan karateristik generasi muda Batak Toba (gen milenial, gen Z dan gen alpha) yang lebih suka yang praktis, efisien dan cepat.
Disadari bahwa tidak mudah menyusun buku yang pas untuk semua. Pelaksanaan adat beda menurut daerah. Adat di Silindung beda dengan adat di Sigumpar. Oleh sebab itu tetaplah mengedepankan “ sidapot solup do na ro” dengan selalu berprinsip 3E.
Guna tercapai tujuan penerbitan Buku Ruhut-Ruhut Adat Batak Toba Di Jabodetabek ini, diminta bagi seluruh stakeholder adat Batak Toba ; Ketua Marga, Raja Parhata, Tokoh Batak ,pemerhati adat Batak Toba dan anggota DM LABB berperan aktif dalam mempromosikan isi buku ini. Agar selalu berperan aktif dalam membantu menerapakannya dalam setiap kesempatan acara adat Batak, khususnya di wilayah Jabodetabek.
Disampaikan juga agar ada penyesuaian disain buku agar dapat diterima generasi saat ini, yakni Gen Milenial, Gen Z dan Gen Alpha, seperti menggunakan ilustrasi visual AI yang menarik agar narasi adat dan makna lebih mudah dipahami, juga dapat menggunakan metode gamifikasi. (DED)

Be the first to comment