Pra-summit Kedua Batak Culture Summit 2026, Seru Bahas Literasi, Aksara, dan Bahasa Batak Agar Tidak Punah

Media Trans – Dewan Pengurus Nasional Batak Center (Pusat Habatakon) bersama Dewan Mangaraja Lembaga Adat Budaya Batak (LABB) berkolaborasi mengadakan Batak Culture Summit 2026, yang akan diselenggarakan pada 6-7 November 2026 bertempat di Gedung NT Tower Jl Pulo Mas Selatan No 31 Jakarta Timur.

Kegiatan Batak Culture Summit 2026 yang dikoordinir oleh Ketua Panitia Martua Situngkir dan Sekretaris Freddy Pandiangan, telah melaksanakan 2 kegiatan sebagai rangkaian pra-summit dari Batak Culture Summit 2026, yakni : Diskusi Publik “Titik Nol Habatakon : Bangso Batak Sebelum Kolonialisme“ yang diadakan pada 25 September 2026 di Auditorium Rektorat IKJ Jakarta Pusat, dengan narasumber Dr. Bonatua Silalahi (cendekiawan Batak, peneliti literatur tua dan langka tentang Batak, dan Departemen Pembangunan Berkelanjutan Batak Center), dengan moderator Michael B. Sinaga jurnalis dan podcaster Sentana.

Pra-summit kedua kemarin dilakukan di Ruang Media Lt. 2 Perpustakaan Nasional Jl. Medan Merdeka Selatan No. 11 Jakarta Pusat. Kegiatan bertajuk Sarasehan Budaya membahas Literasi, Aksara, dan Bahasa Batak. Narasumber kegiatan praktisi budaya Batak bergelar Pande Gurit, yakni Saut Poltak Tambunan, dengan penanggap/ pembahasan mewakili unsur 6 puak, yakni : Ivan HP Siregar/Baginda Hasayangan (Angkola), Yosua Victor Purba (Karo), Mery Tambaria Damanik Ambarita, Ph.D (Simalungun), Marno Siagian (Toba), Lisda Meyanti, M.Hum (Mandailing), dengan Moderator: Dion Passius Sihotang (Departemen Literasi, Aksara, dan Bahasa Batak DPN Batak Center).

Ancaman Kepunahan Literasi, Aksara, dan Bahasa

Kata Sambutan Ketua Panitia Martua Situngkir, Ketua Umum Batak Center Sintong M. Tampubolon, Ketua Umum DM LABB Pontas Sinaga, Pembicara utama Saut Poltak Tambunan, termasuk pandangan para penanggap mewakili unsur 6 puak, mereka menyuarakan keprihatinannya terhadap ancaman kepunahan terhadap literatur, aksara, dan bahasa Batak.

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan kepunahan tersebut, selain minimnya minat mempelajari ketiga hal tersebut, juga minimnya pembelajaran formal disekolah-sekolah pada wilayah Sumatera Utara tentang ketiga hal dimaksud, dan hal-hal lainnya.

Ketua Umum Batak Center dalam kata sambutannya, diantaranya menyuarakan, “Namun, kita tidak dapat menutup mata terhadap tantangan zaman saat ini. Di tengah derasnya arus modernisasi dan kemajuan teknologi digital, kepunahan bahasa daerah dan menurunnya minat generasi muda terhadap aksara lokal menjadi ancaman yang nyata. Jika kita tidak mengambil langkah nyata hari ini, bukan tidak mungkin anak cucu kita kelak hanya mengenal Bahasa dan Aksara Batak melalui buku-buku sejarah di museum”.

Batak Center berkomitmen penuh untuk memajukan, melestarikan, dan mentransformasikan kebudayaan Batak agar tetap relevan di era modern. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis aksara, melainkan juga upaya memahami, mencintai, dan menginternalisasi nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, lanjut Ketua Umum Batak Center S.M Tampubolon.

Ketua Umum Batak Center S.M Tampubolon melalui saresehan ini berharap, dapat merumuskan langkah-langkah strategis, antara lain:

1. Digitalisasi Aksara Batak, agar dapat diakses dan digunakan dengan mudah pada media elektronik serta platform digital masa kini.

2. Penguatan Edukasi, baik melalui jalur pendidikan formal, muatan lokal, maupun kegiatan literasi berbasis komunitas.

3. Kolaborasi Multisektor, mendorong peran pemerintah daerah, akademisi, dan generasi muda kreatif untuk terus menghidupkan bahasa dan aksara Batak dalam kehidupan sehari-hari.

Senada dengan Ketua Umum Batak Center, Ketua Umum DM LABB Pontas Sinaga, menyampaikan “Saya memandang bahwa literasi, bahasa, dan aksara Batak merupakan pilar penting dalam menjaga identitas dan keberlanjutan budaya kita.

Literasi budaya bukan sekadar mengetahui adat istiadat, tetapi memahami makna dan filosofi yang terkandung di dalamnya.

Bahasa Batak bukan sekadar alat komunikasi. Di dalamnya terdapat nilai kesopanan, kekerabatan, nasihat, dan kebijaksanaan leluhur kita. Demikian pula aksara Batak, yang merupakan warisan intelektual leluhur dan harus kita lestarikan serta perkenalkan kepada generasi muda.

Persoalannya, bagaimana agar bahasa dan aksara Batak tidak hanya menjadi kebanggaan masa lalu, tetapi tetap hidup dan digunakan pada masa kini serta masa depan?”.

Lebih lanjut Ketua Umum DM LABB Pontas Sinaga menegaskan bahwa kita harus bergerak dari sekadar mengenal menjadi memahami, dan dari memahami menjadi mengamalkan.

“Oleh karena itu, saya mengajak kita semua untuk melakukan tiga hal. Pertama, memperkuat literasi budaya melalui penulisan buku, penelitian, dan dokumentasi adat serta sejarah Batak. Kedua, menghidupkan bahasa Batak melalui keluarga, lingkungan adat, pendidikan, dan kegiatan kebudayaan. Ketiga, memperkenalkan aksara Batak kepada generasi muda dengan memanfaatkan pendidikan dan teknologi digital” tandas Pontas Sinaga.

Sementara itu, Ketua Panitia Batak Culture Summit 2026 Martua Situngkir, mengungkapkan semangat yang sama tentang perlunya mencegah kepunahan literasi, aksara, dan bahasa Batak.

“Kehadiran para narasumber dan panelis yang membawa perspektif unsur 6 puak, serta pendekatan praktisi-akademisi, merupakan kekayaan tersendiri bagi diskusi kita hari ini. Ini menunjukkan bahwa kebudayaan Batak memiliki ruang dialog yang luas, dengan keragaman tradisi dan pengalaman yang perlu terus dipelajari, dihargai, dan diwariskan” ujar Martua Situngkir.

Martua Situngkir mengapresiasi kehadiran peserta yang berasal dari kemajemukan Bangso Batak, bahkan ada yang non Batak.

“Kehadiran Saudara-saudari menunjukkan bahwa kepedulian terhadap aksara, literasi, dan bahasa Batak masih hidup dan terus bertumbuh di tengah masyarakat. Literasi, Bahasa, dan Aksara Batak bukan sekadar alat untuk membaca, menulis, atau berkomunikasi. Di dalamnya tersimpan ingatan kolektif, pengetahuan leluhur, nilai-nilai kehidupan, kearifan lokal, serta cara suatu masyarakat memahami dirinya dan dunia di sekitarnya.” jelas Martua Situngkir.

Lebih lanjut Martua Situngkir mengemukakan bahwa, “Ketika aksara tidak lagi dipelajari, ketika bahasa semakin jarang digunakan, dan ketika generasi muda kehilangan akses terhadap pengetahuan budayanya, kita berisiko kehilangan sebagian dari kekayaan peradaban yang diwariskan oleh para leluhur. Karena itu Sarasehani hari ini tidak boleh berhenti pada pertukaran gagasan semata. Kita perlu bergerak menuju langkah-langkah nyata: mendokumentasikan pengetahuan, mengembangkan bahan literasi, memperluas ruang belajar bahasa dan aksara, serta melibatkan generasi muda agar warisan budaya Batak tetap hidup dan relevan pada masa kini” seru Martua Situngkir.

Adapun rangkaian pra-summit menuju Batak Culture Summit 2026, menyisakan satu kali kegiatan, yakni yang akan dilaksanakan pada 20 Oktober 2026 bertempat di Kampus Universitas Mpu Tantular Jl. Cipinang Besar No. 2, Jakarta Timur. Kegiatan pra-summit terakhir ini akan membahas Hukum Adat dalam keterkaitannya dengan Hak Ulayat.

Serunya pembahasan dalam rangkaian kegiatan pra-summit, akan menjadi bagian dalam berbagai diskusi yang nantinya akan menghasilkan sejumlah rekomendasi bagi Batak Culture Summit 2026. (DED)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*