Media Trans – Rangkaian acara menuju perhelatan Batak Culture Summit 2026, telah berlangsung hari ini, Jumat 25 September 2026. Bertempat di Auditorium Rektorat Institut Kesenian Jakarta (IKJ) berlokasi di Kompleks TIM Cikini Jakarta Pusat, pagi hingga siang tadi diadakan Dialog Publik tentang “Titik Nol Habatakon : Bangso Batak Sebelum Kolonialisme“.
Dialog publik dengan narasumber tinggal Dr Bonatua Silalahi, ME cendekiawan Batak yang juga peneliti literatur langka/kuno tentang Batak. Bonatua juga tercatat sebagai Ketua Departemen Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s) DPN Batak Center. Dialog dipandu oleh podcaster dan juga jurnalis Sentana, Michael Benyamin Sinaga.
Beberapa buku karya Bonatua yang mengulas sejarah Batak, diantaranya “Kerajaan Batak Sejak 1511, Geopolitik dan Perubahannya“, dan “John Andersen 1823 : Misi Ke Pantai Timur Sumatera” (terjemahan lengkap disertai ulasan sejarah versi Pires, Pinto, Marsden, dan kekinian).
Hadir dalam dialog publik, selain jajaran pimpinan dan pengurus Batak Center serta DM LABB, juga komunitas Batak pemerhati nilai-nilai luhur Habatakon ataupun kesejarahan Batak.
Apa dan Mengapa Titik Nol ?
Bonatua menjelaskan bahwa ‘Titik Nol‘ itu titik kita Batak belum berubah, belum dipecah-pecah oleh kolonialisme Belanda.
“Pada saat Anderson menemukan nilai-nilai Batak sebagaimana dalam bukunya pada tahun 1823. Lalu pada 1824 terjadi Traktat London yang menyatakan penyerahan Pulau Sumatera kepada Belanda, sementara Semenanjung Malaka ke Inggris. Sejak itulah dikatakan Belanda menguasai wilayah Tanah Batak, tapi justru pada 1840 Belanda baru masuk ke Tanah Batak” ulas Bonatua.
‘Titik Nol’ kita masih dipertahankan hingga saat Sisingamangaraja melawan Belanda, demikian lanjut Bonatua.
“Sisingamangaraja masih memegang nilai-nilai Batak saat berperang melawan Belanda. Untuk mengalahkan Sisingamangaraja, Belanda mengubah strateginya dengan menerapkan politik adu domba memecah belah bangso Batak” tandas Bonatua.
Bonatua menegaskan harapan dibalik konsep ‘Titik Nol’ Habatakon, adalah kita kembali ke nilai-nilai orisinal kita.
Berdasarkan penelusuran sejarah Bonatua terhadap sejumlah literatur langka dari sejumlah peneliti berabad-abad lalu, tercatat sejumlah nilai-nilai Batak, yakni Dalihan Na Tolu, Andaliman, Kemenyan, Tuak, setidaknya pada tahun 1772 hal tersebut sudah tercatat dalam sumber literatur yang diteliti Bonatua.
Bonatua juga menyebutkan contoh budaya yang menjadi bagian dari nilai-nilai Batak yang tercatat seperti aksara dan bahasa, dan sinamot, yang sudah disebutkan oleh literatur tua yang ditelitinya,
Menurut Bonatua aksara dan bahasa Batak dari sejumlah puak (dulu diistilahkan sebagai Etnis, sedangkan marga berdasarkan literatur tua disebutkan sebagai Klan) relatif tidak berbeda jauh sebagaimana masa kini.
Budaya kita berubah, sebagaimana contoh sinamot, ujar Bonatua. “Saat dulu sinamot berupa hasil bumi, dan bukan uang seperti jaman sekarang” pungkas Bonatua. (DED)

Be the first to comment