Hari Koperasi Nasional Ke-79, Pandangan Ketua Umum KADIN DKI Jakarta Terhadap Kekinian Gerakan Koperasi, dan Dampak Koperasi Merah Putih

Media Trans – Puncak Peringatan Hari Koperasi ke-79 Senin 12 Juli 2026 yang akan diadakan di Indonesia Arena GBK Jakarta, akan dihadiri Presiden Prabowo Subianto. Perkembangan perkoperasian saat ini, diwarnai munculnya program Koperasi Merah Putih, yang peluncuran resminya dilakukan dalam rangka peringatan Hari Koperasi ke-78 tahun 2025 di Klaten.

Ketua Umum KADIN DKI Jakarta Diana Dewi, kepada mediatransformasi.com menyampaikan pandangannya tentang realitas Gerakan Koperasi, peluang dan tantangan Koperasi pada era kemajuan teknologi, dan dampak Program Koperasi Merah Putih terhadap Gerakan Koperasi.

Peluang dan Tantangan Koperasi di Era Kemajuan Teknologi

“Di era kemajuan teknologi saat ini, koperasi dituntut untuk adaptif, inovatif, dan kreatif, baik dalam menyikapi cepatnya perkembangan teknologi maupun kebutuhan masyarakat” ujar Diana yang juga pendiri dan CEO Suri Nusantara Jaya grup.

Lebih lanjut Diana mengemukakan bahwa, “Koperasi harus bergerak cepat, tidak saja dalam melengkapi sarana dan prasarana penunjang kegiatan, tapi juga meningkatkan kemampuan sumber daya manusia yang lebih baik lagi.”

Diana menjelaskan sejumlah peluang bagi koperasi masa kini, dengan memanfaatkan perkembangan teknologi, yakni:

  1. Mampu memperluas jangkauan pelayanan dan pasar
  2. Melakukan efisiensi operasional
  3. Mempercepat layanan melalui digitalisasi
  4. Mengurangi human error, baik dalam pembukuan, administrasi, dan sebagainya
  5. Semakin transparan dan akuntabel dengan memanfaatkan platform digital

Meski begitu, banyak koperasi masih menghadapi tantangan antara lain:

  1. Keterbatasan sarana dan prasarana
  2. Kemampuan SDM yang kurang mendukung
  3. Rendahnya literasi digital pegawai koperasi
  4. Terbatasnya modal untuk investasi untuk sistem informasi, termasuk keamanan siber dan kebocoran data

“Guna mengatasi hal tersebut, pihak koperasi bisa memanfaatkan akses permodalan melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi (LPDB Koperasi) yang kini dapat diajukan oleh koperasi di seluruh Indonesia secara online melalui platform e-Proposal LPDB” terang Diana.

Selanjutnya Diana menjelaskan tentang layanan pembiayaan LPDB Koperasi. Dijelaskan Diana, layanan ini disalurkan dengan suku bunga sangat terjangkau, menggunakan dua pola utama: konvensional dan syariah.

“LPDB merupakan Badan Layanan Umum (BLU) dibawah Kementerian Koperasi yang berfungsi sebagai penyalur pembiayaan (akses permodalan) kepada koperasi di seluruh Indonesia. Juga pemberdayaan ekonomi dalam memperkuat kapasitas permodalan koperasi. Serta memiliki dampak sosial seperti perluasan kesempatan kerja, meningkatkan produktivitas, dan membantu pengentasan kemiskinan” tambah Diana.

Dampak Koperasi Merah Putih Terhadap Eksistensi Koperasi sebagai Sokoguru Ekonomi

Diana mencermati setahun keberadaan Koperasi Merah Putih, dan dampaknya terhadap Koperasi sebagai Sokoguru perekonomian, mengemukakan bahwa secara konsep, Koperasi Merah Putih dirancang untuk memperkuat posisi koperasi sebagai sokoguru ekonomi.

“Namun, implementasinya menghadapi tantangan berat seperti pemotongan dana desa, masalah pengelolaan, hingga target omzet yang belum optimal” ujar Diana.

“Koperasi Merah Putih sejatinya berfungsi menyediakan gerai sembako murah untuk menekan inflasi di tingkat kelurahan dan desa, dengan begitu, diharapkan dapat memotong rantai pasok dan menjadi tempat pemasaran produk-produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal. Hal ini didukung oleh Kementerian Keuangan melalui pinjaman bergulir dari bank Himbara yang bisa diakses untuk mengembangkan usaha produktif” jelas Diana.

Diana mengemukakan sejumlah tantangan bagi Koperasi Merah Putih.

“Namun, masih ada sejumlah tantangan seperti, ketidaksiapan model bisnis yang diterapkan. Di beberapa daerah, omzet harian koperasi masih tergolong rendah. Selain itu, masih terdapat polemik kebijakan. Salah satunya, penunjukan Kepala Desa atau Lurah sebagai pengawas ex-officio yang memicu kritik terkait prinsip kemandirian koperasi. Begitu juga realokasi dana desa untuk Koperasi Merah Putih masih memicu protes di sejumlah wilayah” terang Diana.

Mengakhiri penjelasannya, Diana Dewi menandaskan bahwa “Intinya, koperasi dapat menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan secara nyata. Namun keberhasilannya sangat bergantung pada evaluasi tata kelola, transparansi, serta kesesuaian program dengan kebutuhan riil masyarakat di setiap daerah.” pungkas Diana. (DED)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*